18 Prinsip Efektifitas Da’wah (Bag ke-1)

| 05/07/2011 | Komentar

Akhwatmuslimah.com – Pada dasarnya aktifitas pemasaran tak jauh berbeda dengan aktivitas dakwah. Kerja pemasaran adalah mencari pelanggan setia sebanyak-banyaknya dengan kiat-kiat tertentu lalu berupaya memberikan pelayanaan (service) yang memuaskan kepadanya sehingga mereka tetap memberikan kredibilitas kepada perusahaan Anda. Aktivitas dakwah adalah mengajak ummat kembali kepada jalan Allah dengan cara-cara memikat (bil hikmah wal mau’izhotil hasanah) lalu berkhidmat kepadanya, hingga mereka secara sadar memberikan loyaliltas dan ketaatan kepada Allah SWT.

Dalam sebuah pelatihannya, Mark Plus merumuskan 18 prinsip pemasaran di eraa globalisasi yang dibingkai dalam Surviving and Winning in The Global Environment.

Nah, bagaimana lembaga-lembaga da’wah dan ormas-ormas Islam mempersiapkan diri untuk menyongsong perang pemikiran (ghazwul fikri) dan perang peradaban (cultural war) di era globalisasi? Strategi apa yang telah disiapkan untuk tetap bertahan bahkan menang di era global yang penuh tantangan? Meskipun Islam memiliki sendi-sendi dasar yang efektif untuk menghadapi kedua hal tersebut, ke 18 prinsip pemasaran di atas tampakanya dapat juga dijadikan acuan untuk meningkatkan peran da’wah di era global.

Prinsip 1 : Marketing is a Strategic Business Concept (pemasaran adalah konsep bisnis yang strategis). Seperti kata David Packard, pendiri Hawlett-Packard, Marketing is too important for marketing department (pemasaran terlalu penting buat sebuah departemen pemasaran). Oleh karena itu keputusan-keputusan segmentasi, positioning, targeting dan keputusan-keputusan strategis lainnya harus dikendalikan langsung dari atas.

Bagi sebuah lembaga da’wah atau ormas Islam, Da’wah is a strategic action concept. Oleh karena itu keputusan-keputusan segmentasi, positioning, targeting, dan keputusan-keputusan startegis lainnya dalam upaya optimalisasi kinerja lembaga da’waah atau ormas Islam harus direncanakan dan diputuskan secara seksama berdasarkan kajian yang mendalam terhadap kondisi realitas di masyarakat. Dalam meda da’wah pun tampaknya kita perlu melakukan segmentasi, targeting dan positioning.

Prinsip 2 : Everyone is a Marketes (setiap orang adalah pemasar). Apabila perang pemasaran terjadi, menciptakan nilai untuk pelanggan adalah tugas setiap individu dalam perusahaan.Kepuasan dan kesetiaan pelanggan adalah tanggung jawab setiap anggota perusahaan.

Dalam terminologi Islam, setiap mu’min adalah juru da’wah. Nahnu du’at qobla kulli sya’i (kami adalah juru dakwah sebelum yang lainnya), demikian Hasan al banna berpesan kepada seluruh pengikutnya. Ketaatan dan kesetiaan (loyalitas) umat terhadap islam dan garis-garis perjuangan Islam merupakan tanggung jawab setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Prinsip 3 : Concentrate on Value, not just Profit (berkonsentrasi pada nilai, bukan hanya pada keuntungan). Pada akhirnya pemenang dalam perang pemasaran adalah perusahaan yang tiada henti menciptakan nilai dalam produk yang dijual ke konsumen. Perusahaan yang memiliki win-win attitude (sikap menang-menang) dan berpikir jauh ke depan juga akan berkonsentrasi pada nilai pelanggan, bukan hanya pada keuntungan semata. Nilai akan menghasilkan kepuasan.

Dalam meda da’wah, prinsip ini bisa difokuskan pada upaya peningkatan kualitas juru dakwah. Juru dakwah yang berkualitas akan menyampaikan materi-materi dakwah yang berbobot dan berkualitas. Menghujam ke dasar qalbu pada audiensinya.

Dari sinilah kita berharap akan terjadi proses penyadaran masyarakat secara kolektif akan pentingnya mengkaji, memahami, dan menjalankan ajaran-ajaran Islam. Mereka akan beradaptasi dengan Islam dan selalu ketagihan untuk menyirami hatinya dengan nilai-nilai Rabbani.

Prinsip 4 : Concentrate on Loyalty, not just Satisfaction (konsentrasi pada loyalitas, bukan hanya kepuasan).

Kalau jumlah pesaing sudah menjamur, maka konsumen akan menghadapi banyak godaan untuk berpaling pada pesaing Anda, meskipun mereka sudah puas dengan Anda. Jadi susunlah strategi untuk menciptakan dan mempertahankan loyalitas pelanggan Anda, jangan merasa puas dengan kepuasan pelanggan Anda. Dalam era global yang penuh tantaangan, menciptakan suasana agar umat Islamtidak terpengaruh dengan ajakan-ajakan syetan yang manis, tetap berada dalam orbit Islam, selalu berinteraksi dengan nilai-nilai Islam, merupakan prinsip lanjutan daari prinsip yang ketiga. Maka, buatlah agar mereka selalu enjoy, asyik, betah, butuh dan pada akhirnya bergantung pada Al Qur’an dan Sunnah. Janji-jani setan tentang manisnya dunia, terasa amat kecil jika dibandingkan dengan manisnya surga Allah.

Prinsip 5 : Concentrate on Difference, not just Average (konsentrasi pada perbedaan, tidak hanya pada persamaannya).

Jangan sekali-sekali berpikir untuk menciptakan produk yang sama untuk setiap orang. Setiap orang punya kebutuhan, keinginan serta harapan yang berbeda-beda. Ingatlah all customers are not created equal, setiap individu selalu ada perbedaan. Salah satu prinsip dakwah mengatakan khaatibunnasa ‘alaa qodri ‘uqulihim, berbicaralah dengan audiensi Anda sesuai dengan kadar intelektualitas mereka. Maka, jadikanlah prinsip ini untuk memacu kretifitas Anda, sebagai juru dakwah. Kesankan bahwa Islam itu menarik, tidak monoton; gembira tidak membosankan; dinamis, tisak statis; menyenangkan, tidak menakutkan.

Prinsip 6 : Concentrate on Anticipation, not just Reaction (konsentrasi pada antisipasi, bukan hanya reaksi).

Suatu prinsip klasik yang mengandung kebenaran lumintu. Bersikaplah proaktif bukan reaktif dalam menghadapi manuver kompetisi, gejala politik, dan perubahan perilaku pasar. Dalam realitas sejarah pergerakan Islam, konspirasi politik Yahudi dan Nasrani selalu memandulkan dan memarjinalkan peran politik Islam. Islam boleh tampil dalam baju ritual, tradisi, seni, dan budaya, tapi Islam tidak boleh tampil dalam panggung politik terdepan, penentu kebijakan dan pengendali kekuasaan. Untuk bisa berpikir proaktif antisipatif perlu pemahaman yang mendalam tentang strategi musuh-musuh Islam.

Prinsip 7 : Brand : Avoid Commodity-like Trap (merek : hindari jebakan komoditas).

Anda tentu kenal jeruk Sunkist, itu karena merek tersebut sudah dikenal dan dipercaya oleh konsumen buah. Jeruk tidak mesti disebut jeruk, tapi jeruk bisa disebut Sunkist. Jadilah seperti Sunkist yang dikenal dan dipercaya. Janganlaha menjadi jeruk-jeruk lain yang tidak punya nama.

Bila diterapkan dalam bidang dakwah, prinsip ini berkaitan dengan masalah confidence, nama baik, dan amanah. Ahli bijak berkata karena nilai setitik rusak susu sebelangga. Ketika mulai berdakwah, Rasulullah SAW telah mengantongi sertifikat al amin yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat. Sertifikat ini sama sekali bukan hasil rekayasa sebagaimana yang sering dilakukan orang saat ini untuk menutupi kebusukannya.

Prinsip 8 : Service: Avoid Business Category Trap (pelayanan : hindari jebakan pengkategorian bisnis).

Bila Anda memproduksi komputer, apakah Anda otomatis masuk dalam product business? Jawabnya tentu tidak. Apa pun dan siapapun Anda, apabila mau menjadi kompetitif harus menjadi the service company. Artinya, perusahaan harus memiliki sense of service. Suatu paradigma untuk secara kontinyu memberikan nilai kepada konsumennya.

Dalam dakwah, prinsip ini bermakna ad-daa’iyatu khadiimatul ummah (juru dakwah adalah pelayan umat). (bersambung…) [ANW]

 

Sumber : Waqafah Tarbawiyah, Serial fikrah, dakwah dan harakah Edisi 01, Ir. Syamsu Hilal

Category: Dakwah & Jihad, Dakwah & Pemikiran Islam