Becareful Zona Nyaman Sang Aktivis!

Akhwatmuslimah.com – Selamat tinggal wahai dunia duka
Dan selamat datang wahai dunia iman
Burung yang patah sayapnya takkan mati karena lukanya….
Wahai hatiku yang sedih perangainya
Sungguh kesedihan itu telah meninggalkan diriku

Kan terbang aku ke dunia cinta
Karena aku Muslim yang membumbung dengan iman
Gelarku adalah Muslim dan itu cukup bagiku
Aku termasuk kedalam tentara keimanan

Al Qur’an adalah cahaya dan sinar
Islam adalah kecintaan dan kerinduanku
Di bawah naungan agama aku hidup
Untuk menebus keislamanku yang nyaris sirna…
Sehingga aku menjadi khalifah di dunia
Dan mengibarkan tinggi-tinggi panji Al Qur’an

Lirik nasyid dari Izzatul Islam di atas, menggambarkan tentang hijrahnya seorang manusia. Dan hijrah yang dimaksud di sini adalah beralihnya manusia dari masa kegelapan jahiliyah menuju masa iman yang terang benderang.

Membuka Border, Hijrah Kedua

Saat seseorang baru hijrah menuju ke arah yang lebih baik, umumnya hal pertama yang dilakukan adalah membangun “border” untuk diri sendiri dengan cara menjauhi lingkungan maksiat yang sekiranya dapat membahayakan keselamatan akidah dan akhlaknya. Namun sebaiknya seorang muslim tidak selamanya ada dalam kondisi ini karena ia harus meningkat menuju hijrah selanjutnya. Sebuah hijrah yang bisa diistilahkan sebagai “hijrah kedua”, yaitu hijrah dengan cara membuka “border” yang pernah dibangunnya karena ia telah “imun” (kebal).

Hijrah kedua, dimana setelah melakukan perbaikan akidah dan akhlak diri dalam “border”-nya, ia terjun ke kamp orang-orang yang bermaksiat, orang-orang yang tidak se-fikrah dengannya, orang-orang yang semula ia hindari. Ia harus mulai membenturkan ideologinya dengan ideologi selain Islam sehingga di sinilah seorang muslim, baru akan merasakan kebenaran hakiki Al Islam. “Sesungguhnya yang haq itu jelas, yang haq batil itu jelas dan ketahuilah yang batil pasti hancur dan yang haq pasti menang.”

Orang yang sudah imun, insya Allah tidak akan terkontaminasi dengan segala ideologi selain Islam. Baik itu komunisme, kapitalisme, hedonisme, sosialisme, liberalisme dan isme-isme lainnya, bahkan dengan ajaran agama para missionaris sekalipun. Allah SWT bersabda, “Dan kami teguhkan perkataan hamba-hamba kami di dunia dan di akhirat.

 

Zona Nyaman yang Melalaikan

Dikaitkan dengan para aktivis da’wah yang insya Allah telah menyadari bahwa tak selamanya ujian dari Allah itu adalah dalam bentuk kesusahan dan celaan – karena boleh jadi ujian itu adalah dalam bentuk kenikmatan dan pujian-, maka hendaknya kita mewaspadai “zona nyaman” ini.

Zona nyaman yang dimaksud di sini adalah kondisi cepat puas dan merasa cukup dengan apa yang telah dicapai sehingga melalaikan ekspansi da’wah. Padahal seorang du’at tak seharusnya memiliki sifat cepat puas. Allah SWT berfirman, “Apabila kamu telah selesai dari satu pekerjaan maka lanjutkan pekerjaan lainnya.”

Sang aktivis dapat dikategorikan berada dalam zona nyaman, bila:

1. Disibukkannya aktivis pada masalah-masalah sepele internal organisasi – yang seharusnya tak perlu dipermasalahkan- sampai-sampai mengabaikan masalah eksternal yang jauh lebih urgen.

2. Banyak menghabiskan waktu dengan bercanda dan nrgobrol-ngobrol bersama sesama aktivis sehingga kurang introspeksi diri. Jika hal ini yang terjadi, maka sesungguhnya pada saat itulah kita berada dalam keadaan stagnan, tak bergerak.

3. Para aktivis sibuk sendiri dengan agenda kegiatan-kegiatan Islam, padahal orang-orang di luar aktivis sama sekali tak tersentuh, tidak ngeh dan yang lebih parah, tak tahu ada organisasi Islam di kampus atau lingkungan mereka.

4. Para qiyadah (pemimpin) struktural organisasi Islam, sibuk sendiri dengan agendanya. Ia mengetahui bahwa dirinya adalah qiyadah bagi para jundi, namun jundi-jundi itu sendiri tidak menyadari bahwa Anda adalah pimpinannya, sehingga tanpa sadar, siapakah pengikut-pengikutnya?

5. Merasa cukup dengan kondisi organisasi Islam yang dirasa telah banyak pengikutnya. Padahal bagi seorang muslim tak ada kata berhenti berjuang, “Hingga tak ada lagi fitnah dan agama ini hanya milik Allah.” Terlebih, tak selayaknya kita bangga dengan jumlah, “Dan ingatlah ketika kamu menjadi congkak… “

6. Puas dengan hanya berkutat di lingkungan sesama aktivis saja akibat terlena dengan aneka pujian dan kekaguman para pengikut kepada dirinya.

Alaa kulli hal… Maka kita sebaiknya merubah sudut pandang, terjun ke lapangan dan menjadikan yang batil itu sebagai agenda bersama untuk dihadapi. Ini bukanlah hanya tugas aktivis yang diterjunkan di siyasi saja, yang notabene memiliki misi “merubah neraka menjadi surga”, tetapi juga tugas aktivis yang eksis di organisasi Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bersabar dengan gangguan manusia maka itu lebih baik. “

 

Zona Pergerakan

Menjadi “imun” tentu tak mudah, perlu mujahadah dan pembinaan yang terus menerus sebagai bekal terjun ke medan “pertempuran”. Dan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa seorang muslim janganlah selamanya di dalam “border”, ia harus keluar dan berkiprah dengan telah imun akidah, tsaqafah dan akhlaknya.

Kalkulasi, hitung-hitungan jumlah kader untuk tidak menjadikannya management by feeling. Semisal, total jumlah mahasiswa di fakultas sebuah universitas yang terdiri dari enam angkatan berjumlah 15.000 orang dan aktivis da’wah di fakultas tersebut sebanyak 150 orang. Para aktivis yang berjumlah 150 orang ini akan merasa banyak dalam lingkungan mereka sendiri, namun mereka lupa melihat keluar bahwa masih ada 14.850 mahasiswa lainnya. Tak pelak, ini berarti para aktivis itu hanyalah 0,01 % dari keseluruhan mahasiswa di fakultas tersebut.

Meski sebaiknya kita memang jangan menjadikan jumlah sebagai patokan keberhasilan atau kegagalan da’wah, namun ini dapat menyadarkan kita bahwa tidak selayaknya kita berada dalam zona nyaman. Dan sekali lagi, hal ini dikarenakan masih ada komunitas lain yang jauh lebih besar dari kita, yang belum tersentuh da’wah. Zona nyaman ini harus diganti dengan zona pergerakan dan menetapkan agenda “turun gunung” untuk merangkul 99,99 % lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bila seseorang mendapat petunjuk hidayah melaluimu maka itu lebih baik dari dunia dan seisinya.”


Penutup
Seringnya para aktivis menghabiskan waktu bersama, sepintas memang terlihat baik, namun bila hanya diisi dengan mengobrol dan bercanda tanpa adanya agenda da’wah yang didiskusikan atau hal yang bermanfaat lainnya dan merasa cukup dengan kondisi da’wah yang ada, maka sesungguhnya aktivitas sering berkumpul itu, bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Hapuslah zona nyaman, lihatlah dunia luar, buka border dan bergeraklah kita untuk memperlebar sayap da’wah. Insya Allah “imun” itu bukanlah karena kekuatan dan kehebatan kita pribadi, namun karena pertolongan dari Allah akan karunia ilmu dan hidayah keyakinan yang menghujam di lubuk hati bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, yang sempurna dan diridhai-Nya. [ANW]

Share this post

scroll to top