“Akhwat… Akhwat…”

| 11/04/2012 | & Komentar

Akhwatmuslimah.com – Usai sebuah acara, kami para akhwat, akan pulang dengan menaiki Busway. Sambil menunggu Busway, kami mengobrol di tengah antrian yang sangat panjang. Tiba-tiba, datang laki-laki berkulit gelap. Ia memakai kaos dan bercelana jins yang maaf, underwearnya sedikit terlihat. Ia memakai topi dan di lehernya diikatkan rantai besi yang besar. Ada tato di tangannya. Mungkin sedang trend ya.. Bingung.

Laki-laki itu langsung mengantri di belakangku. Jujur saja, aku sedikit khawatir dengan penampilannya dan aku menjadi terkejut ketika tubuhnya sampai benar-benar menempel ke punggungku. Aku jadi risih. Berfikir.. berfikir… Kemudian tasku yang lumayan ”gendut” karena berisi jaket, segera kuputar saja ke arah belakang, jadi tubuh laki-laki itu tidak bisa menempel denganku. Meski di dalam tasku ada HP, camera dan barang-barang berharga lainnya, aku relakan saja kalau terjadi sesuatu, seperti pencopetan, misalnya. Pasrah.

Setelah beberapa saat.. Dia menegurku, ”Akhawat.. Akhawat…., tasnya kena saya nih.”

<ding>, pikirku. Kok orang ini bisa tahu kata ”akhwat” ya. Mungkin aku salah dengar. Kemudian aku menoleh ke belakang. Kucoba mengusir rasa takut dan tegangku, lalu menjelaskan kepadanya, ”Eh… iya, karena, itu (aku menunjuk ke arah tubuhnya), nempel ke saya nih… Maaf ya.” Kemudian aku tersenyum padanya dengan senyum yang kurasa dipaksakan. ”Oh, iya…iya…”, ujarnya. Dia tersenyum sambil mengangguk-angguk tanda mengerti, bahkan ia segera mengambil jarak denganku dengan sedikit mundur ke belakang. Aduh, semoga saja dia tidak marah…

Akhirnya Busway datang. Wah, karena antrian yang panjang, Busway yang semula kosong, dalam sekejap sudah penuh dengan orang yang duduk, pun yang berdiri. Sesak. Aku tidak dapat tempat duduk. Ternyata laki-laki itu duduk di belakangku.

Busway melaju. Aku berdiri cukup lama. Acara yang melelahkan, dan apatah lagi aku sedang puasa, membuatku sedikit pusing. Padahal perjalanan masih jauh. Lelah. Kakiku bergeser sedikit ke belakang dan eh… tak sengaja kena kaki laki-laki tadi, yang memang tengah menyelonjorkan kakinya. Dia segera menarik kakinya. Aduhh.., aku bisa bikin rusuh nih, pikirku. Kan banyak tawuran yang terjadi hanya karena salah senggol. Ya ngga’? . Ya, kalau sampai ada apa-apa, tinggal teriak saja. Aku melihat para akhwat yang lain berada cukup jauh dariku. Tapi berapa banyak juga kejahatan terjadi di siang hari, yang karena emosi, langsung main set.. set.. pakai pisau. Tidak perduli di hadapan orang banyak sekalipun. Ingat.. ingat, kejahatan bisa terjadi bukan hanya karena niat dari pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan. Aduh, tapi ini kan siang.. lagi pula banyak orang… Aku sibuk dengan pikiranku. Di kiri kananku banyak wanita yang berdiri juga.

Tiba-tiba terdengar lagi panggilan itu.., ”Akhawat.. Akhawat…”. Apa aku tidak salah dengar ya. Eh, tapi terdengar lagi, ”Akhawat.. Akhawat…”. Laki-laki itu menarik pelan jilbabku dari belakang. Hwaaa… Aku menoleh ke belakang. Ia segera berdiri dan berkata, ”Duduk di sini aja…” (Wah, kirain…. –red). Ia mempersilahkanku duduk di tempatnya. Aku sempat terdiam. Biasanya, aku tidak mau menerima tawaran duduk dari orang. Tapi kali ini, karena aku sudah sangat lelah, akhirnya aku mengiyakan saja dan berkata, ”Terima kasih ya…”. Aku duduk. Fiuh…

Sambil berdiri, ia bertanya, ”Habis darimana?” tanyanya dengan suara lembut.
”Itu.., habis ada acara sama teman-teman”, jawabku.
Ia mengangguk-angguk.
Wah, mungkin dia ikhwan yang sedang menyamar. On mission (?). Tapi kok…. Eng…
Ah, aku segera menghapus pikiran-pikiran itu dan mencoba menikmati saja pemandangan Kota Jakarta dalam Busway yang melaju perlahan, sambil mengingat firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al Hujurat : 12). (ANW/2006)

Tags:

Category: Artikel, Kolom Muslimah, Tulisan

Komentar

  1. cowobaex mengatakan:

    hahaha

    lucu…..

  2. ryu mengatakan:

    Hehee…lucu-lucu..be positive thinking, right!!