Tsaqofah Sang Murabbi

Akhwatmuslimah.com – “Hah?! Jadi Murabbi? Ngga’ ah, ane belom siap neh!” ujar Laila. Lain lagi dengan jawaban Wini, “Jadi Murabbi? Emm…, insya Allah…,” ujarnya mantap.

Ada dua jawaban berbeda yang sering kita temukan di lapangan. Dan tentu saja jawaban kedua adalah jawaban yang benar. Mengapa seseorang takut untuk menjadi Murabbi? Terkadang, kalaupun bersedia, ia harus dipaksa-paksa dahulu oleh qiyadah (pemimpin). Sesungguhnya hal tersebut bisa terjadi karena, “Yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberikannya.” Syaikh Yusuf Al Qardhawi mengatakan, “Seseorang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, maka bagaimana ia akan memberikannya kepada orang lain? Orang yang tidak memiliki se-suatu tidak akan mampu memberikan-nya….”

Nah, sekarang bagaimanakah cara kita untuk memasukan input Islam bagi diri kita agar mampu mengeluarkan output yang cemerlang?

Wawasan Keislaman
Teko yang diisi air putih, tentu akan mengeluarkan air putih pula. Maka, wawasan sangatlah urgent. Wawasan umum, seperti serial tokoh dan buku-buku lainnya, agar dapat menyimpulkan pengetahuan dari buku-buku yang kita baca.

Menyeleksi yang Baik-Baik
Pepatah mengatakan, “Seekor lebah harus mengisap sejuta bunga agar ia bisa memberikan kepada kita seratus gram madu.” Dan Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin adlah seperti perumpamaan seekor lebah. Ia memakan yang baik dan memberikan yang baik.” (HR. Ahmad, hadits nomor: 8533). Ini artinya, seorang Murrabi harus melanglang buana dalam dunia buku dan alam raya, sekaligus melalui bacaan dan perenungan, yang diiringi perasaan yang tulus, terhadap apa yang dibaca dan yang didengarnya.

1. Dari Al Qur’an, Pilihlah yang Muhkam
Seorang Murabbi harus memiki interaksi yang baik dengan Al Qur’an. Ia harus memperbaiki keakrabannya dengan Al Qur’an agar bisa memberikan pengaruh kepada mutarabbinya. Al Qur’an memiliki berkah yang akan memantulkan pada diri orang yang menghafalnya, pengetahuan dan pemahaman terhadap berbagai urusan kehidupan.

2. Dari As Sunnah, Pilihlah yang Shahih
Seorang Murrabi hendaknya mampu memaparkan kehidupan Rasulullah saw.,
3. Dari penuturan ulama salaf
Pilihlah ucapan-ucaapan yang sesuai dengan aqidah yang benar, jauh dari polemik, yang tampak hikmahnya, dan benar penisbatannya.

4. Dari penuturan ulama kontemporer
Pilihlah ucapan-ucapan yang bisa men-diagnosa penyakit dan menentukan pe-nawarnya serta memancarkan kasih sayang.

Menyusun Referensi Buku
Sebelum memulai halaqah, sebaiknya menyiapkan, sebagai berikut:

1.Membuat arsip khusus dan membagi tema-tema yang terlalu besar menjadi beberapa sub tema. Seperti tema shalat: Khusyu’ dalam shalat, qiyamullail, dan fiqh shalat.

2. Berusahalah menelaah buku-buku yang ada pada perpustakaan pribadi Anda.

Menghafal
Mengahafal Al Qur’an, Hadits-hadits Arba’in Nawawiyah, diiriingi penelaahan yang intensif terhadap kitab Riyadush Shalihin.

Memiliki Perpustakaan Khusus
Setiap Murabbi sebaiknya sudah membaca buku seperti Jundullah Tsaqa-fatan wa Akhlaqan, karena di dalamnya terdapat banyak referensi buku yang harus dapat menambah tsaqafah Murabbi.

Pengetahuan Umum
Jangan lupa, sebagian besar majalah ilmiah dan pengetahuan umum akan berguna bagi Anda sebagai komponen pendukung, saat Anda menyampaikan materi. Oleh karena itu, hendaknya Anda memiliki koleksi buku-buku seputar,
– Konsep, pemikiran, jamaah, atau aliran terpenting yang telah tersebar di seluruh penjuru dunia, baik yang klasik ataupun modern.
– Beberapa pemiikiran ilmiah yang menarik dan bermanfaat bagi manusia.
– Berbagai informasi tentang fisik dan fungsi anggota tubuh manusia.
– Berbagai informasi tentang peradaban-peradaban klasik dan modern serta interaksi antar berbagai peradaban di atas.

Internet adalah sumber informasi
Begitu banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkani via internet, yang mungkin ti-dak ada di media-media cetak, maupun majalah. Contohnya adalah Buku Bible, Qur’an and Science yang sangat bagus, yang beredar lebih cepat di internet.

Ilmu-Ilmu Humanis
Seorang Murabbi pada hakekatnya sedang melakukan upaya mengendalikan jiwa-jiwa mad’unya, agar sampai pada keyakinan dan ketertarikan. Oleh karena itu, ia harus memiliki pengetahuan tentang jiwa ini; berbagai karakter, jenis, kebutuhan dan motivasinya.

Melalui pengenalan terhadap karakter jiwa manusia, seseorang bisa mengetahui kapan dia akan berbicara; bagaimana dan kapan harus diam; serta mengapa. Di antara ilmu humanis yang harus ditelaah oleh Murabbi adalah ilmu jiwa (psikologi), sosial, ekonomi, manajemen personal dan seni berinteraksi dengan orang lain. [ANW]

(Referensi : Kitab “Seni Menghadapi Publik” yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan)

Share this post

scroll to top