Karakter Seorang Akhwat Tarbiyah

Bunga_Tulips_640x480Akhwatmuslimah.com –  Berikut ini adalah tentang karakter akhwat haraki.
Pertama -Karakter- Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Dilihat dari sudut pandang pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya di defenisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi, karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan.
Kedua –Akhwat- Selama ini mungkin kita beranggapan bahwa semua perempuan dapat dikatakan sebagai seorang akhwat, namun ternyata hanya perempuan  tertentu saja yang layak disebut akhwat.(Nisa Hafidz: 2009) Beberapa pengertian akhwat yang dikemukakan Nisa dalam blognya yakni: Seorang akhwat itu tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap. Akhwat juga tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, tapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan. Akhwat itu tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi, tapi seberapa besar tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah. Akhwat itu tidak dilihat dari IP-nya yang cumlaude, tapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada ummat. Akhwat itu tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek, tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik.
Masih banyak sekali pengertian akhwat yang dikemukakan banyak orang, namun inti dari itu semua adalah bahwa akhwat itu tidak sekedar sebagai seorang perempuan. Tapi, akhwat adalah perempun yang tertarbiyah, ada ruh tarbiyah didalamnya.
Ketiga -Haraki-  Istilah haraki ini berasal dari bahasa Arab ‘harakah’ yang berarti bergerak atau pergerakan.
Saudaraku, dari ketiga pengertian diatas, dapat kita simpulkan bahwa karakter akhwat haraki adalah tabiat atau kebiasaan seorang perempuan tertarbiyah –akhwat- dalam melakukan sebuah pergerakan ummat. Beberapa karakter akhwat haraki akan ana utarakan dalam makalah sederhana ini. Namun sebelumnya perlu diketahui bahwa akhwat juga memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula, yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini, dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peren-peran mereka.
Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku serta dakwah yang tertutup dan kepribadian yang menyendiri, yang memilki jiwa yang keropos. Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang ikhwan maupun akhwat didalam kehidupannya, yaitu:
1.      Salimul akidah, bersih akidahnya
2.      Shahihul ibadah, benar ibadahnya
3.      Matinul khulq, kokoh akhlaknya
4.      Qawiyyul Jismi, memiliki fisik yang kuat
5.      Mutsaqqaful fikr, berwawasan pemikirannya
6.      Qadirun Alal Kasbi, mampu berekonomi
7.      Munazhamun fi syu’nihi, terorganisir sluruh urusannya
8.      Harishun Ala waqtihi, cermat mengatur waktunya
9.      Mujahidin linasihi, kuat kesungguhan jiwanya
10.  Nafi’un li ghairihi, bermanfaat bagi selainnya
Untuk mewujudkan 10 muwashafat ini, dan membentuk lini-lini dakwah yang kuat dalam satu barisan -dalam aspek harakah- maka ada beberapa kebiasaan yang harus dibangun sebagai seorang akhwat, dan kebiasaan-kebiasaan ini akan menunjukkan karakter akhwat haraki itu. Karakter-karakter itu adalah:
1.      Mengerjakan hak Islam yang lima (Rukun Islam)
Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ’Umar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda : ”Islam itu ditegakkan diatas lima dasar : bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya; mendirikan shalat; menunaikan zakat; haji ke Baitullah; dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”
Nah, hal ini merupakan pokok utama dari yang namanya Islam. Namun meski ini pokok, bukan berarti Islam itu hanya mengerjakan yang lima ini aja. Semua sisi kehidupan kita didunia dan persiapan kita menuju kehidupan diakhirat pun diatur sedemikian rupa oleh Islam. Tujuannya bukan untuk mempersulit kita melainkan untuk menjamin kemaslahatan hidup kita didunia ini.
2.      Menerima qadha dan qadar Allah dengan Ridha
Yakinlah bahwa semua yang terjadi pada diri kita ini sudah merupakan ketetapan dari Allah. Hanya saja, ada ketetapan yang gak bisa diganggu gugat lagi tapi ada juga ketetapan Allah yang masih bisa kita ubah sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Misalnya, udah menjadi ketetapan Allah bahwa kapan kita akan kembali menghadapNya (wafat maksudnya) tapi kita berkewajiban mengusahakan mau mati dengan cara seperti apa. Mau khusnul khatimah, ya rajin-rajin ibadah. Kalau gak mau, siap-siap saja mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah. Semoga Allah menjauhkan kita dari akhir kehidupan yang buruk.
3.      Ikhlas
Ikhlas (khalashah) secara bahasa berarti bersih murni. Sedangkan menurut istilah dapat diartikan sebagai membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain. Karna amal itu tergantung kepada niatnya. Ala kulli hal dalil tentang ikhlas ini bisa diliat di QS. Al-Bayyinah [98] : 05, ”Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah, ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” Juga di QS. Al-A’raf [07] : 29 yang bunyinya : ”….. dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepadaNya.”                      
Dari sini dapat disimpulkan tanda-tanda ikhlasnya seorang hamba itu diantaranya adalah :
– Tidak mencari popularitas dan tidak menonjolkan diri
– Tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian 
– Tidak silau dan cinta kepada jabatan
– Tidak diperbudak imbalan dan balas budi
– Tidak mudah kecewa
– Tidak membedakan amal besar dan amal kecil 
– Tidak fanatik golongan 
– Ridha dan marahnya bukan karena berdasarkan pribadi
– Ringan, lahap dan nikmat dalam beramal
– Tidak egois, karena selalu mementingkan kepentingan bersama
– Tidak membeda-bedakan pergaulan
4.      Sabar
”Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran [03] : 200)
5.      Selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabatullah)
Tiga pokok ajaran ini; iman, islam dan ikhsan. Iman itu adalah mengakui dengan perkataan, membenarkan dengan hati serta mengamalkan dengan perbuatan. Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat ”Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”, mengerjakan shalat lima waktu, zakat, naik haji ke Baitullah, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.
Sedangkan ikhsan adalah beribadah seolah-olah melihat Allah, jika tidak mampu berlaku demikian –karena tidak khusyu’nya hati kita kepadaNya– maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat kita. Namun muraqabatullah bukan hanya pada saat kita beribadah aja. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita diwajibkan untuk selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi setiap tingkah laku kita, sehingga setiap gerak gerik kita akan selalu terjaga dari maksiat kepadaNya. Amiin Ya Rabbul ’Alamiin…
6.      Mencintai Allah dan Rasulnya
Allah berfirman : ”Katakanlah (Muhammad) : ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [03] : 31). Bagi kita-kita yang mengaku cinta sama Allah tapi masih enggan buat mengikuti sunnah (perbuatan) RasulNya, maka cinta kita itu patut dipertanyakan..
7.      Wara’ serta meninggalkan syubhat
Syubhat artinya adalah sesuatu yang membuat ragu. Wara’ atau berhati-hati agar tidak menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah untuk kita adalah perbuatan yang disunnahkan oleh RasulNya bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi semua manusia yang mengaku dirinya muslim/ah. Hal ini sangat mmpengaruhi esensi atau nilai dari ibadah yang akan, sedang atau telah kita lakukan.
8.      Mengharapkan Rahmat-Nya
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [02] : 218).
9.      Tawakkal
Berserah diri kepada Allah itu wajib dilakukan oleh kita sebagai muslim. Kalo nggak, maka kita termasuk makhluk yang sombong.
10.  Percaya atas pertolongan Allah
Sesungguhnya Allah itu menurut persangkaan hambaNya. So, kalau kita percaya bahwa Allah bakal menolong setiap kesusahan yang dialami hambaNya, pasti pertolongan itu bakal datang. Kunci utamanya lagi-lagi adalah Usaha, doa, tawakkal plus sabar.
11.  Selalu menyertakan niat jihad atas segala aktivitasnya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “’Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah berperang (fi sabilillah) atau dalam dirinya belum pernah terlintas niat untuk berperang (fi sabilillah), maka ia mati berada dalam salah satu cabang nifaq (kemunafiqan).” (HR. Muslim). Dan jihad nggak cuma diartikan sebagai perang melawan kaum musyrikin saja. Thalabul ‘ilmi (belajar mencari ilmu yang diridhai Allah) pun dapat termasuk jihad jika niat kita semata-mata ikhlas karenaNya.
12.  selalu memperbarui taubat dan istighfar
Betapa diwajibkannya perintah untuk memperbarui taubat dan istighfar ini, sampe-sampe banyak banget ayat-ayat cinta Allah buat kita yang menegaskannya. Sebut aja QS. An-Nuur [24] : 31, QS. Huud [11] : 90 dan QS. At-Tahriim [66] : 8. ”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya…..” (QS. At-Tahriim [66] : 8).
13.  Mempersiapkan diri untuk hari akhir (mengingat kematian)
”Setiap yang bernyawa pasti akan mati….” Jika setiap melakukan aktivitas apapun kita selalu ingat akan penggalan ayat ke 185 dari Qur’an surat [03] Ali Imran tersebut, pastinya semua yang akan kita lakukan gak akan ada yang melenceng dari syariatNya. Alangkah indahnya jika seisi dunia ini berbuat hal yang demikian. Akan tewujudlah apa yang kita harap-harapkan selama ini yaitu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ’alamin. ”…. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu….” lanjut kalimat kedua dalam ayat ini. Sehingga memotivasi kita untuk mendapat kebaikan yang sempurna pada hari kiamat kelak.

Share this post

scroll to top