Kisah Nabi Isa Membangkitkan Mayat Penduduk Desa Dengan Izin Allah

Ilustrasi. (Foto : galleryhip.com)

Ilustrasi. (Foto : galleryhip.com)

Akhwatmuslimah.com – Nabi Isa as pernah melewati sebuah desa. Ia melihat semua penduduk desa itu mati bergeletakkan. Nabi Isa as terheran-heran dengan kejadian tersebut, dan berkata, ‘Wahai kaum hawari (para sahabat dan pengikut Nabi Isa as), sesungguhnya kaum ini meninggal dalam keadaan dimurkai dan dikutuk. Seandainya mereka itu mati dalam keridhaan Allah, tentu sebagian mereka akan mengubur sebagian lainnya.” Lalu para hawari itu berkata, “Wahai Ruhullah, kami ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka ini.”

Kemudian Nabi Isa memohon kepada Allah mengenai hal itu. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, “Apabila telah malam, panggilah mereka, dan mereka akan menjawabmu.”

Dan ketika malam tiba, Isa naik di atas bukit dan memanggil, “Wahai penduduk desa!”

Kemudian salah seorang dari mereka yang telah meninggal itu menjawab, “Ya, wahai Ruhullah.”

Nabi Isa bertanya, “Apa masalah kalian? Dan apa yang membinasakan kalian?”

Orang itu menjawab, “Wahai Ruhullah. Kami di malam hari dalam keadaan sehat, namun di pagi hari kami telah binasa.” Beliau bertanya lagi, “Mengapa demikian?”

Ia menjawab, “Karena kami sangat mencintai dunia. Menaati orang yang berbuat maksiat, tidak menyuruh kepada yang makruf dan tidak mencegah dari yang mungkar.”

Nabi Isa as bertanya lagi, “Bagaimana cinta kalian kepada dunia itu?”

“Seperti anak bayi yang mencintai ibunya. Apabila ia datang, kami senang. Jika ia pergi, kami sedih dan menangis,” jawab orang itu.

Nabi Isa bertanya lagi, “Wahai fulan, bagaimana dengan sahabat-sahabatmu, mengapa mereka tidak menjawabku?”

Ia menjawab, “Mulut mereka dibelenggu dengan belenggu neraka oleh tangan-tangan para malaikat yang bengis dan kasar.”

Beliau bertanya lagi, “Lalu bagaimana  kamu dapat menjawabku, bukan mereka?”

“Aku ini berada di tengah-tengah mereka, namun bukan termasuk golongan mereka. Dan ketika diturunkan azab kepada mereka, aku ikut mengalaminya bersama mereka. Sekarang aku tergantung di pinggiran neraka, tidak tahu apakah akan selamat dari padanya atau akan terjatuh ke dalamnya,” jawabnya.

Wahai orang yang berjalan dengan sisa usianya dan telah melampui batas. Tangisi perbuatan maksiatmu. Sebab engkau mungkin akan terusir. Wahai orang yang usianya telah terampas, usia yang telah berlalu itu tak akan kembali. Aku telah memberikan nasihat-nasihat yang terbaik. Rambut ubanmu telah menyampaikan pesan kepadamu bahwa engkau sedang diincar oleh kematian, dan engkau tak akan dapat menghindar. Lisan i’tibar telah memanggilmu dengan ucapan, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Insyiqaq: 6)

Wahai saudaraku! Ini adalah waktunya kembali, minta ampun, menghentikan perbuatan dosa dan pelanggaran-pelanggaran. “Barangsiapa yang telah mencapai usia empat puluh tahun dan kebaikannya belum mengalahkan keburukannya, maka hendaknya ia bersiap-siap ke neraka.”

Alla Azza wa Jalla berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Hai hambaku, tidakkah engkau tahu hamba Aku menjadikan dunia sebagai negeri penugasan dan ujian, dan Aku tidak mengutamakan pemberian karunia dan kebaikan kecuali kepada orang yang bertobat kepada-Ku dari kesalahan-kesalahan dan kemaksiatan-kemaksiatan? Maka mengapa kalian tidak mendatangi pintu-Ku dan tidak takut dengan hukuman dan siksaan-Ku?”

Wahai orang yang kelalaiannya sungguh besar, mabuknya sangat lama. Renungkan kasih sayang Tuhan dan kebaikan-Nya terhadapmu. Demi Allah, pikullah beban tobat diatas pundakmu. Basuhlah wajahmu dengan tetesan tetesan air mata. Berselimutlah dengan kain kerendahan diri dan ketundukan. [Akhwatmuslimah.com]

Sumber : Kitab IBNUL  JAUZI

Share this post

scroll to top