Kisah Pengusaha Jakarta yang Bangkrut

Ilustrasi. (Foto : kolbentech.com)

Ilustrasi. (Foto : kolbentech.com)

Akhwatmuslimah.com –  Ada seorang pengusaha yang sudah bangkrut dari Jakarta datang kepada seorang kyai. Dia datang dengan mengendarai mobil. Dia sedang dikejar-kejar oleh debt collector, karena sudah 5 bulan tidak bayar cicilan mobilnya. Dia bilang kepada sang kyai, “Kyai, hidup saya sudah habis…sudah tidak ada lagi yang senang dengan saya…”

Lalu sang kyai ini menjawab : “Masih ada yang cinta sama kamu, masih ada yang berharap kamu menjadi seorang yang lebih baik lagi.”

“Siapa kyai? udah nggak ada…karyawan saya tinggal satu,tinggal supir dan yang lain sudah tidak ada yang mau sama saya, karena memang saya sudah tidak sanggup membayar gaji mereka.”

” Ada..Dialah yang sudah lama kamu tinggalkan. Dialah yang sudah lama kamu abaikan.”

“Siapa kyai ?..Allah ya…?

“Tuh tau. Dialah Allah yang akan mampu menyelamatkan kamu. Kamu kembali kepada NYA, yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji”i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah. Radhiyyatam mardhiyah.Fadkhulli fii ‘ibadi wadkhu lli jannati. Sini ! Allah bilang, balik..balik..balik!”

Buat ibu bapak yang lagi punya penyakit, buat saudara saudara yang lagi punya utang, buat saudara yang sedang mencari pekerjaan,saudara yang masih kuliah  dan selama kuliah belagu, nggak pernah shalat.

Jika kemudian dia menemukan dirinya sulit, sekolahnya tidak lulus, hutangnya banyak, kalau begitu ada yang lagi kangen !

Siapa..? Allah …

Dialah yang disebut dalam surah Al-Mukmin “Ghaafirudzdzambi”.

Ghaafirudzdzambi wa qaa bilit tabi syadidil ‘iqabi dzit tauli. Dialah Allah Yang Maha Pengampun. Waa qaa bilit taubi, penerima taubat .  Tapi dia juga punya siksaan yang teramat keras. Namun Dia memiliki karunia yang panjang, yang banyak, yang berlimpah.

Sang kyai bilang sama pengusaha yang datang “Balik kepada Allah! Allah bisa menyelamatkan perusahaan kamu. ”

Sang kyai bertanya kepada si pengusaha “Masih punya apa kamu yang bisa disedekahkan?”

“Nggak ada kyai, saya cuma punya utang….”

Ternyata tidak ada. Kata dia tidak ada . Ruko dari yang punya besar sampai kecil. Kecil sampai nyewa. Nyewa sampai sudah tidak bisa bayar lagi. Pokoknya ceritanya sudah tidak ada yang bisa disedekahkan lagi. lalu pegimane..?

Sang kyai kemudian bertanya ”kamu kesini naik apa..?”

“Naik mobil kyai.”

“Ya sudah, mobil saja disedekahin.”

Lalu dia bilang, “Mobil ini sudah 5 bulan tidak dibayar angsurannya kyai, mungkin sampai rumah sudah ditungguin orang untuk dicabut.”

Apa kata sang kyai ? “Udah..mobil aja disedekahin. Gimana kek caranya tuh!” Akhirnya pengusaha ini kemudian menyedekahkan mobilnya.

Rupanya memang si pengusaha ini sedang memasarkan mobil ini. Kalau diambil sama leasing kan habis tuh nggak ada sisa lagi. Kalau kredit memang kejam. Misalkan, saudara ambil kredit motor 3 tahun. Ada DP, sudah bayar angsuran 12 bulan. Dibulan ke 13 saudara nggak sanggup bayar angsuran, angsuran macet. Angsuran bulan 1-12 yang sudah dibayar, jadi hangus. Makanya jangan tempuh jalur kredit. Jadikan jalur kredit , jalur pilihan terakhir. Pilih Jalur Sedekah  !

Dengan pertolongan kyai atas izin Allah, mobilnya dioper kredit. Dari oper kredit itu , masih ada sisa uang. Sisanya itulah yang kemudian dia sedekahkan. Satu minggu kemudian, terjadilah peristiwa yang membuat kita menjadi belajar, kenapa hanya untuk bersedekah saja harus menunggu perusahaan hancur? Kenapa bersedekah menunggu keluarga hancur? Kenapa ketika tidak saat jaya saja lalu kemudian datang kepada Allah…??

Kenapa bukan pada saat senang saudara sedekahkan harta saudara ? Kenapa nunggu kerjaan sudah nggak ada, baru saldo yang tinggal Rp.100.000 atau Rp.200.000 disedekahkan?

Kalian ataupun saya , kita ini seperti orang tua. Begitu datang anak, sekalinya datang, ceritanya sedih melulu. Jadi orang tua Insya Allah akan selalu menolong. Cuma..orang tua akan terus berurai air matanya, berderai air matanya. Punya anak kok ceritanya sedih melulu.

Ini anak, begitu hidupnya senang, lupa sama orang tuanya. Begitu kaya, lupa sama orang tuanya. Begitu diangkat kerjanya, lupa sama orang tuanya.

Giliran yang sedih sedih melulu dia balik ke orang tuanya.

Alhamdulillah …orang tua mah tetap orang tua.

Begitu juga Allah, Allah ya tetap Allah “Ghaafirudzdzambi”. Maha Pengampun. Tapi sampai kapan kita mau insyaf ?

Ketuk pintuNYA di tengah malam…saat kaki kemudian masih bisa berdiri tegap, berangkar shalat subuh berjamaah. Tatkala kemudian Allah Swt masih mengaruniakan istri yang cantik, anak-anak yang sehat badannya, belum ada itu yang namanya stroke, ginjal, segala macam hancur. Pada saat keadaan yang seperti itu… kita balik.

Mudah mudahan selagi kita masih muda, belum keburu tua, kita bisa kembali kepada Allah.

Mari kita berdoa bersama :

Ya Allah, selamatkanlah kami, mudah mudahan kami termasuk orang orang yang selamat, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat nanti…Aaminn.”

===========

Sumber : Diambil dari cerita Ustadz Yusuf Mansur (Buku : Semua Bisa Jadi Pengusaha), kisahsedekah

Share this post

scroll to top