Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah; Saat Ingin Bunuh Diri, Wanita Ini Justru Mendapat Hidayah

Ilustrasi. (Foto: globe-views.com)

Ilustrasi. (Foto: globe-views.com)

Akhwatmuslimah.com – Adalah kisah tentang seorang anak dan ayahnya yang merupakan seorang syekh.

Anak laki-laki ini dan ayahnya setiap minggu mereka membagikan booklet islami sebagai dakwah, menyeru orang-orang kepada jalan yang benar, berusaha memberikan nasihat kepada mereka. Dan anak laki-laki itu berumur 12 tahun. Dan kemudian datang minggu yang sangat dingin. Hujan mulai turun. Anak ini mulai mengenakan perlengkapannya, dan dia mengenakan jaketnya.

Dia menghampiri ayahnya dan berkata “Aku siap pergi yah.”

Ayahnya berkata “Siap pergi kemana?”

Dia berkata “Aku siap pergi membagikan bookletnya.”

Ayahnya berkata “Nak, aku tidak akan pergi minggu ini. Terlalu dingin. Diluar hujan.”

Tapi putranya berkata “Ayah, kita harus pergi. Kita masih harus melakukannya, masih ada orang-orang dijalan ayah. Kita harus pergi dan melakukannya.”

Ayahnya berkata “Nak, ini dingin. Aku tidak ingin pergi minggu ini.Aku ingin beristirahat, ini terlalu dingin.”

Dan kemudian putranya berkata “Ayah, kita harus melakukannya. Ayah, apakah kau akan mengizinkan ku pergi seorang diri dan melakukannya?”

Jadi ayahnya setuju dan membiarkannya pergi seorang diri.

Anak itu menuruni tangga dan mulai membagi-bagikan pamflet, di jalanan membagikan pamflet. Hujan mulai turun begitu deras, tapi dia menaruh pamfletnya di dalam plastiknya, membagi-bagikannya pada orang. Tapi sekarang hanya tersisa satu pamflet lagi. Satu pamflet dakwah lagi, dan dia ingin memberikannya, dia ingin menyelesaikan misinya, tapi dia tidak bisa menemukan siapa-siapa sekarang, karena sekarang jalanannya mulai banjir. Hujan turun deras, sangat dingin. Jadi dia mencari tempat dimana dia dapat menyerahkan pamflet terakhirnya.

Dia pergi ke sebuah rumah, dia melihat sebuah rumah dan mengetuk pintunya. Dia mulai mengetuk pintunya. Dia mengetuk sekali, mengetuk dua kali. Dia mulai memencet bel nya. Dia berkata dalam kisahnya, dia berkata bahwa dia tidak tahu kenapa dia masih tetap disana. Tapi dia tetap disana. Dan dia terus menekan belnya, menekan, dan menekan belnya. Sampai pada akhirnya seorang wanita yang menangis membuka pintunya.

Seorang wanita yang menangis membuka pintunya. Anak itu tersenyum padanya dan berkata “Allah mencintaimu. Maaf karena telah mengganggumu, Allah mencintaimu dan akan menjagamu. Dialah yang akan menjagamu. Dan Dia telah membawakan untukmu buku ini.”

Dan dia memberikan bukunya kepada wanita ini. Kemudian dia pulang kerumah. Tepat seminggu setelahnya, tepat pada jumat selanjutnya, ketika shalat jumat. Imamnya berkhutbah dan setelah khutbah, dia bertanya pada orang-orang “Apakah ada yang kau ingin kau sampaikan?”

Karena dia mengizinkan orang-orang untuk berfatwa, dan seseorang mulai berbicara dari bagian belakang masjid. Di bagian wanita, dan itu adalah seorang Nyonya.

Dia berkata “Ya, aku ada yang ingin disampaikan. Aku bukan seorang muslim. Beberapa bulan yang lalu suamiku meninggal. Dan sejak saat itu aku menjadi sangat sedih. Aku menangis setiap hari. Bahkan aku menganggap inilah akhirnya. Aku menyerah. Dan kemudian minggu lalu aku memasang tangga. Aku menggantungkan tali ke atas rumah. Aku menaiki tangganya, dan aku memasang tali itu disekitar leherku. Aku telah menyerah. Dan aku siap mati.

Dan kemudian aku mendengar bunyi bel, aku mendengar pintunya diketuk dan bel berdering. Pada awalnya aku tidak melakukan apa-apa. Kemudian dia terus berdering, berdering dan berdering. Dan hal itu menjengkelkan, jadi aku turun dan melihat siapakah itu. Siapa orang yang datang bertamu hujan-hujan begini?”

Jadi dia melepaskan tali itu dari lehernya. Dia tadinya sudah siap bunuh diri. Dan diapun pergi ke pintunya. Dia membuka pintunya dan dia melihat seorang anak kecil. Dia berkata bahwa dia melihat anak kecil di sana dengan senyum seperti malaikat, senyum yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Dan anak itu berkata padanya, anak itu berkata padanya, “Allah mencintaimu, dan Dia di sini untuk menjagamu. Allah mencintaimu dan Dia di sini telah menjagamu. Maaf telah mengganggumu, tapi Dia telah membawakanmu buku ini.”

Dan demi Allah, wanita itupun masuk kembali ke dalam dan dia mulai membaca bukunya.

Membaca buku tentang Allah s.w.t.

Dia berkata bahwa setelah membaca bukunya, dia tidak jadi melakukan bunuh diri. Dan kemudian dia terus melanjutkan membaca buku-buku tentang islam. Sampai akhirnya dia mendapatkan lebih banyak booklet islami. Kemudian dia menjadi muslim. Dan dia sekarang di masjid, sekarang dia berada di masjid. Shalat bersama jamaah pada hari jumat.

Demi Allah, Saudara/saudari, jangan berputus asa dari  rahmat Allah s.w.t. Allah mencintaimu.

Dan dia ingin agar kau kembali pada-Nya.

Jangan menjadi orang-orang yang tersesat.

Demi Allah, saudara/saudari.  Allah akan mengampuni apapun.
Segala yang kau lakukan. Tapi kau harus kembali. Kau harus kembali kepada Allah s.w.t

Jangan putus asa dan berpikir “Aku telah melakukan banyak dosa. Aku tidak bisa menanggungnya lagi dan sekarang aku terkubur dalam dosa-dosaku.”

Terkadang orang-orang putus asa begitu, dan mereka terus-menerus menenggelamkan diri mereka. Menenggelamkan diri dalam dosa.

Dan mereka berpikir “Aku sudah terlalu melakukan banyak dosa, aku sudah terlanjur akan masuk neraka. Jadi aku akan terus melakukan dosa.”

Demi Allah, ini menjadikan situasinya bertambah buruk. Ini akan menuntunmu pada situasi terburuk.

Jangan putus asa akan rahmat Allah s.w.t.

Sumber: mylife

Share this post

scroll to top