Nabi Muhammad Sebagai Pedagang Profesional

rasulullah-10Akhwatmuslimah.com – Tidak disangsikan, jika mencermati sejarah hidup Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau adalah seorang pedagang profesional.

Beliau adalah seorang pedagang yang berbeda dibandingkan kebanyakan pedagang lainnya. Beliau melakukan pekerjaan ini bukan sekedar memenuhi kebutuhannya. Bukan juga untuk menjadi seorang jutawan, sebab beliau tidak pernah memperlihatkan kecintaan yang sangat besar terhadap harta kekayaan. Karena berbisnis ini merupakan satu-satunya pekerjaan mulia yang tersedia baginya pada waktu itu, beliau melibatkan diri di dalamnya untuk memenuhi keutuhan hidupnya.

Adapun yang beliau hasilkan cukup sekadar menunjang kehidupannya. Betapapun kecilnya urusan dagang yang pernah dilakukannya selama remaja, beliau melakukannya dengan penuh kejujuran, keadilan, serta tidak pernah memberikan kesempatan kepada pelanggannya untuk mengeluh. Beliau selalu menepati janji, serta mengantar barang-barang yang kualitasnya telah disepakati kedua belah pihak tepat pada waktunya.

Dalam transaksi bisnisnya sebagai pedagang profesional tidak ada tawar-menawar dan pertengkaran antara Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para pelanggannya, sebagaimana sering disaksikan pada waktu itu di pasar-pasar di sepanjang Jazirah Arab. Segala permasalahan antara Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para pelanggannya selalu diselesaikan dengan damai dan adil, tanpa ada kekhawatiran akan terjadi unsur-unsur penipuan di dalamnya.

Adalah fakta sejarah bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya melakukan perdagangan dengan adil dan jujur, tetapi bahkan telah meletakkan prinsip-prinsip dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur tersebut. Kejujuran, keadilan, dan konsistensi yang beliau pegang teguh dalam transaksi-transaksi perdagangan telah menjadi teladan abadi dalam segala jenis masalah perdagangan.

Reputasi Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai pedagang yang jujur, profesional, dan terpercaya telah terbina dengan baik sejak usia muda. Beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawab dan integritas yang besar ketika berurusan dengan orang lain dalam berbisnis. Sikap ini dibawanya ketika menjadi pemimpin umat.

Dalam kaitan sikap profesionalisme, Rasulullah pernah mengatakan, “Apabila urusan (manajemen) diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”Di sini letak pentingnya profesionalisme dalam bisnis Islami. Islam sangat peduli dengan profesionalisme. Karena itu pula, ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan tugas kepada sahabat-sahabatnya, beliau sangat memperhatikan latar belakang kemampuan sahabat tersebut.

Suatu ketika ada seorang sahabat (Abu Dzar) yang belum mendapat tugas, datang bertanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengapa ia tidak mendapat tugas (amanah) sementara sahabat-sahabat yang lain ada yang ditunjuk menjadi Gubernur (Mu’adz bin Jabal), bendahara negara (“Umar ibn Khathhtab), panglima perang (Khalid bin Walid), dan sebagainya. Nabi Muhammad mengatakan, “Fisik engkau sangat lemah sehingga tidak sanggup jika dibebani tugas-tugas berat seperti yang diberikan kepada mereka.”

Di sini terlihat bahwa beliau tidak hanya bekerja secara profesional, tetapi sikap profesionalisme beliau praktikkan pula ketika telah dilantik menjadi nabi. Beliau memimpin sahabat-sahabatnya dengan prinsip profesionalisme;  memberinya tugas sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki. Tidak ada dalam kamus kepemimpinan Rasulullah, hal-hal yang bersifat KKN. Semuanya berjalan dengan profesional dan tentunya dengan tuntunan Allah. [ ]

2 Hadits Al-Bukhari

=====

Sumber : SyariahMarketing, Hermawan Kertajaya dan Muhammad Syakir Sula, arp-rabbani