Nabi Muhammad Sebagai Wirausahawan Sejati

Ilustrasi. (Foto: bramardianto.com)

Ilustrasi. (Foto: bramardianto.com)

Akhwatmuslimah.com – Setelah kematian kakeknya, ‘Abdul Muththalib, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tinggal bersama pamannya, Abu Thalib, yang berprofesi sebagai pedagang sebagaimana kebanyakan  pemimpin Quraisy saat itu. Sebab, berdagang merupakan pendapatan utama penduduk Kota Makkah.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam baru berusia dua belas tahun ketika pertama kali melakukan perjalanan dagang ke Syria bersama pamannya. Qadarullah, Abu Thalib ibn ‘Abdul Muththalib telah merencanakan melakukan perjalanan bersama sekelompok pedagang dalam ekspedisi dagang ke Syria. Ketika semua perbekalan telah siap dan kelompok tersebut berkumpul untuk meninggalkan Makkah, Nabi Muhammad yang waktu itu masih seorang pemuda kecil, merangkul pamannya dan memperlihatkan kasih sayangnya yang sangat besar sehingga Abu Thalib sangat iba. Beliau berkata, “Aku akan membawanya bersamaku, dan kami tidak akan pernah berpisah.” Selanjutnya, inilah perjalanan pertama Nabi Muhammad mengenal dunia bisnis.

Jiwa wirausaha atau entrepreneurship adalah salah satu kekuatan yang di kembangkan oleh Rasullah. Sedangkan wirausahawan atau entrepreneur itu sendiri secara sederhana  adalah kemampuan kita untuk menciptakan atau mendesain manfaat dari apa pun yang ada dalam diri dan lingkungan. Apa pun yang dilihat dapat dikemas menjadi sesuatu yang bermanfaat. Seorang wirausahawan mampu mengenal situasi dan mendayagunakan situasi tersebut sehingga bisa menghasilkan manfaat.

Nabi Muhammad adalah salah seorang dari anggota keluarga besar suku Quraisy dan karenanya beliau punya garis darah sebagai wirausahawan, sebagaimana umumnya keluarga Quraisy. Meskipun tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, beliau banyak menerima modal dari para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka. Mereka menyerahkan dananya kepada Nabi yang dikenal jujur untuk  menjalankan bisnis dengan modal dari mereka dengan prinsip kemitraan dan bagi hasil. Dengan demikian, terbukalah kesempatan luas bagi Nabi Muhammad untuk memasuki dunia bisnis dengan cara menjalankan modal orang lain.

Khadijah adalah salah seorang dari banyak wanita kaya di Makkah yang menjalankan bisnisnya melalui agen-agen berdasarkan berbagai jenis kerja sama kemitraan. Karena Nabi Muhammad sejak kecil terkenal rajin dan percaya diri, beliau memperoleh reputasi yang baik ketika dewasa. Beliau amat dikenal karena kejujuran dan integritasnya. Penduduk Makkah sendiri memanggilnya dengan sebutan shiddiq (jujur) dan al-amin (terpercaya).

Nabi Muhammad telah berhasil membina dirinya menjadi seorang wirausahawan sejati yang memiliki reputasi dan integritas luar biasa. Selain itu, beliau juga berhasil mengukir namanya di kalangan masyarakat bisnis pada khususnya dan kaum Quraisy pada umumnya. Seorang ahli hadits, Abdur Razzaq, menyebutkan sebuah riwayat dari Mu’amar berdasarkan sumber dari Imam Zahri bahwa ketika mencapai usia dewasa, Nabi Muhammad telah terbentuk menjadi seorang  wirausahawan. Karena tidak punya modal sendiri, beliau pun berdagang dengan modal orang lain.

Khadijah telah menunjuknya sebagai “manajer pemasaran” untuk membawa barang-barang dagangannya ke Pasar Habasyah yang merupakan salah satu kota perdagangan terbesar saat itu.

Nabi Muhammad memang seorang wirausahawan sejati, beliau telah menjadi teladan teladan bagi umatnya, bagaimana memulai dan mengelola suatu bisnis tanpa harus memiliki modal sendiri. Beliau membuktikan bahwa dengan bermodalkan kejujuran dan integritas diri yang baik, cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang wirausahawan. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, betapa kejujuran dan integritas seorang pebisnis sudah menjadi barang langka. [ ]

=====

Sumber : SyariahMarketing, Hermawan Kertajaya dan Muhammad Syakir Sula

Advertisements