Al Qur’an Untuk Anak Autis

Ilustrasi. (Foto: riaubook.com)

Akhwatmuslimah.com – Ini kisah tahun 2009. Waktu itu pesantren Al Hikmah masih dikelola kami berdua. Hanya saya dan suami. Kami tak melibatkan ustadz maupun musyrif.

Hari Ahad pagi datanglah tamu semobil kijang, penuh. Rupanya rombongan keluarga yang lengkap. Terdiri dari kakek, nenek, abi, ummi, paman, bibi, dan dua anak laki-lakikakak beradik. Yang satu berumur 13 tahun, satu lagi 8 tahun.

Saya persilahkan semua duduk di teras rumah kami yang menghadap ke halaman belakang. Teras ini merupakan favorit saya dan para tamu. Sebab menghadap ke halaman seluas 1 hektar yang semua permukaannya ditutupi rumput, juga berbagai pohon buah-buahan tumbuh sebagai peneduh.

Mereka merupakan keluarga besar dengan tingkat pendidikan yg baik. Juga taraf ekonomi yang mapan. Pemahaman agamanya juga baik. Terlihat dari caranya berbusana. Gamis dan jilbab. Juga wajah wajah yang punya komitmen pada nilai-nilai agama. Maka bagai ketemu dengan saudara jauh, kami langsung lebur dalam pembicaraan yang akrab.

Selama pembicaraan itu, perhatian saya sesekali tertuju pada anak lelaki yang berumur 13 tahun yang duduk berjarak 2 meter dari saya. Ia tampak aneh.. Rupanya mereka menangkap apa yang saya fikirkan. “Kenalkan ummi… Ini yang mau mondok di Al Hikmah, ingin jadi mujahid yang hafal qur’an” Segera ibunya memperkenalkan.
“Oohh MasyaAllooh… Siapa namanya? ” saya menanggapinya, dan anak ini malah membuang muka dengan  senyumnya yang malu-malu.
“Ayoo bang, kenalkan dulu. Tuuh ditanya Sama umi,” kakeknya menimpali.

Suami saya mendekatinya dan mengulurkan tangan. “Siapa namanya, bang?” Namun anak ini malah membalikkan badan dan ekspresinya tampak sangat gelisah. “Wobbaanyii….” Ia menjawab, namun kurang jelas
“Siapa…?” Tanya suami lembut
“Wobbaanyii… ” Suaranya masih tidak jelas. Dan terdengar cemas.

Lalu keluarga ini bergantian menerangkan kepada kami bahwa Rabbani pengidap autis. Konon ia sudah di terapi selama 4 tahun dengan biaya yang cukup mahal, namun tak ada perkembangan berarti. Mereka sangat berharap kami menerimanya. “Kami denger cara Al Hikmah mengasuh santri seperti keluarga, beda dengan  pesantren biasa. Kami mohon ummi, ustadz… Jika dalam seminggu ini umi dan ustad ternyata tak berkenan, kami akan jemput lagi.” Demikian pintanya, lirih. Dan penuh harap.

Maka sejak hari itu, Al Hikmah Bogor menjadi berbeda. Perhatian saya lebih banyak tersedot pada Rabbani. Saya dibuat bingung oleh caranya berinteraksi. Oleh polanya dalam bersosialisasi, oleh ketidakmampuannya berkomunikasi. Oleh motoriknya yang sering tanpa kendali. Begitu banyak hal yang tidak saya fahami. Saya menerimanya tanpa bekal pengetahuan sama sekali. Kami berdua tidak tahu dunia autis, belum pernah membaca buku tentangnya atau ikut seminarnya. Bahkan tak pernah diskusi tema ini.

Sejak kedatangannya saya harus terus mengawasi perubahan suasana interaksi antar santri. Sebab, pernah suatu ketika ia memukul perut santri yang lebih kecil dengan sekuat tenaga. Sampai santri tersebut berguling2 menahan sakit. Ia memukul tanpa alasan, saat itu ia baru bangun tidur dan melakukannya begitu saja. Saya kesusahan mengajari Rabbani akan nilai-nilai empati, dan ini seringkali mengganggu harmonisasi antar santri. Jadi saya harus sesering mungkin mengumpulkan semua santri untuk sekedar menyampaikan bahwa Rabbani adalah anggota keluarga kita yang istimewa. Kita harus belajar memaklumi dan menerima perbedaannya.

Keberadaan Rabbani di Al Hikmah sempat membuat beberapa pihak “ramai” sampai-sampai donatur kami yang seorang psikolog menegur dengan pedas. “Ustadz, Umi… Kok bisa anak autis Masuk sini. Ini kan pesantren tahfidz?”

Singkat cerita, santri istimewa ini bertahan di Al Hikmah selama 14 bulan. Padahal bertahan seminggu pun keluarganya sudah sangat berterima kasih kepada kami. Dan tahukah anda, setelah 14 bulan itu tak seorangpun yang percaya bahwa Rabbani pernah autis. Ia hafal Qur’an hampir 20 juz dengan hafalan yang sangat baik. Rabbani bisa berkomunikasi dengan sangat baik pada siapapun. Ia menyambut dengan ramah. Bahkan ia bisa mengikuti semua kegiatan extra kulikuler. Yang blm bisa ia kerjakan hanyalah renang dan pakai sarung.

Sang donatur yang dulu menegur kami kini membujuk dengan wajah berbinar, “Ustad.. Umi… Kalau ada anak autis lagi terima saja yah”
Saya jawab, “InsyaAlloh jika saya masih turun mengasuh anak-anak ini.”

Umur 14 tahunia kembali ke rumah. Beberapa tahun setelah itu saya pernah melacaknya via alumni. Bertanya ke sana kemari, bahkan menelusurinya via medsos. Belakangan saya dapat Informasi, bahwa kini ia agak bebas. Keluar masuk warnet dan begadang main game online sampai larut malam. Ah… Namun saya tak mau melanjutkan kisahnya setelah keluar dari Al Hikmah Bogor. Itu sdh diluar tanggung jawab kami.

Yang ingin saya sampaikan adalah betapa ajaibnya Al Qur’an. Ia bisa menyembuhkan sebuah kelainan dengan sempurna. Menjalani terapi pada ahlinya selama 4 tahun tanpa ada perkembangan dan tidak ada jaminan sembuh. Lalu dengan Qur’an, berkembang begitu menakjubkan dalam 14 bulan.

Ayah bunda pembaca yang kebetulan punya anak autis mohon tidak tersinggung jika ada kata-kata saya yang salah dan kurang berkenan. Saya menulis ini karena tiba-tiba ingat santri istimewa itu yang setiap jam 3 pagi sudah bangun dan menghafal Qur’an dengan suaranya yang sangat kenceng.

** Ditulis di Asrama Mafaza, saat tempat ini sedang kosong dari semua santri dan musyrifahnya. Rasanya begitu sepi hari-hari tanpa dikelilingi para penghafal Qur’an.

===

Sumber: Astri Hamidah