Pesan untuk Manusia-Manusia Hijrah…

Akhwatmuslimah.com – Berapa banyak kisah futurnya para manusia-manusia hijrah, manusia yang semula hidup dalam kejahiliyahan lalu kembali kepada cahaya iman, tetapi kemudian kembali lagi kepada kejahiliyahan.

Masih segar dalam ingatan, seorang akhwat pernah menulis dan bercerita tentang hijrahnya ia yang sangat ia syukuri, yang hijrahnya itu ia tandai dengan memakai jilbab. Bahwa betapa ia tak akan kembali lagi ke jalan yang dulu. Tapi itu pernyataannya satu tahun lalu. Ia yang semula berjilbab panjang, lama kelamaan mulai naik jilbabnya, semakin pendek dan semakin pendek. Kemudian diawali dengan ber-sms ria dengan laki-laki, senyum, lalu bertemu… Semula sembunyi-sembunyi namun karena sudah sering dilakukan, kini menjadi biasa dan sudah tak malu lagi berdua-duaan, berpacaran di depan umum…

Pun kisah lainnya, seorang akhwat memperjuangkan jilbabnya di hadapan keluarganya. Sampai ayah pun memukulinya dan menyuruhnya melepaskan jilbabnya. Namun ia tetap bertahan. Tapi itu kisah yang lalu… Ia yang dulu sangat akif berda’wah, sekarang telah berhenti sama sekali berda’wah, baik di kampus, di sekolah, maupun di organisasi massa. Menarik diri. Pun sudah tak segan lagi mengeluarkan statemen yang sering menyudutkan saudara-saudaranya yang notabene aktivis Islam.

Ada pula kisah muslimah yang bersemangat hijrah, kemudian berjilbab rapi, namun itu hanyalah kisah beberapa tahun lalu. Kini ia sudah melepas jilbabnya, bahkan keluar dari Islam, dan menjadi atheis.

Astaghfirullah…Ya Rabbi. Inilah langkah-langkah syetan. Setahap demi setahap. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208). Berhati-hatilah kita akan tipu daya syetan yang hendak mengembalikan kita ke belakang.

Melihat ini semua, sungguh ingin kuucapkan selamat untuk ikhwan dan akhwat yang masih istiqomah menggenggam agama yang bak menggenggam bara api ini. Ummat Muhammad itu seperti air hujan yang tak dapat diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya. “Umatku (umat Muhammad) ibarat air hujan, tidak diketahui mana yang lebih baik awalnya atau akhirnya.” (Mashobih Assunnah). Janganlah kita mengagumi amal seseorang sebelum kita melihat bagaimana endingnya.

Ketahuilah, dengan telah berhijrah, bukan berarti kita telah aman dari segala tipu daya syetan. Justru, ia akan semakin kuat godaannya, membuat kita lupa siapa diri kita. Bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang harus senantiasa memperbaiki diri sepanjang hayat. Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa bila ia mengetahui dirinya nanti akan mati dalam keadaan muslim, ia akan tenang melakukan apa saja. Tapi pasalnya, tidak ada seorangpun yang mengetahui apakah akan mati dalam keadaan Islam atau tidak. Inilah yang membuat Ali selalu waspada dalam hidup dan berjuang tak kenal henti.

Dalam Kitab Shahih Muslim terdapat kisah ‘Amr ibnul ‘ash, seorang sahabat Rasul, yang mengatakan: “Hai manusia, sesungguhnya aku menjalani hidupku dalam tiga tahapan:

1. Dahulu pada masa jahiliyah aku tidak mengenal Islam dan orang yang paling aku benci saat itu adalah Rasulullah SAW. Demi Allah, seandainya saat itu aku mempunyai kesempatan terhadapnya, niscaya aku bunuh dia dan seandainya aku mati dalam keadaan seperti itu, pastilah aku termasuk ahli neraka.

2. Selanjutnya aku masuk Islam” –merupakan kenangan yang paling indah baginya- “Aku datang ke Madinah menemui Rasulullah SAW. Ketika beliau melihatku, langsung beliau menyambutku dengan sambutan yang hangat dan tersenyum kepadaku……………

3. Selanjutnya, dunia mempermainkan dan membolak-balikkanku, demi Allah sampai aku tidak mengetahui hendak dibawa kemana diriku ini. Akan tetapi, aku tetap berpegang teguh pada Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah sampai akhir hayatku.”

‘Amr bin ‘Ash pun meninggal dunia dalam keadaan berpegang teguh pada syahadat tauhid tanpa pernah membukanya hingga dimasukkan ke dalam liang kuburnya.

Sungguh tidak ada yang dapat mengetahui bagaimana ending kehidupan kita kelak. Oleh karena itu hendaknya kita semua, manusia-manusia hijrah, harus senantiasa berdoa kepada Allah SWT.. Yaa muqollibal quluubi tsabbit qolbi ‘alaa diinik, “Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Tirmidzi).

Pun berdoa “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran : 8 ) [ayatalakrash]

Share this post

scroll to top