Berharap Rezeki dengan Sedekah dan Shalat Dhuha, Perlukah ?

jeruk2Akhwatmuslimah.com – Suatu malam, jelang akhir Mei 2015, saya berjumpa Ust. Ali Mahfuzh, Lc. Beliau adalah salah satu pengajar di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Syariah) Al-Manar. Dapat kesempatan satu majelis dengan beliau, tak saya sia-siakan. Bahasan saat itu sebenarnya adalah Seni & Strategi dalam Dakwah. Materi aslinya milik ‘Aidh al-Qarni, pengarang kitab fenomenal: La Tahzan.

Prolognya: dakwah itu seni yang harus ditekuni, harus ditunaikan secara profesional oleh para du’at. Seperti seni bangunan, seperti pembuatan produk-produk dalam industri. Karenanya, ada adab-adab yang harus seorang da’i miliki. Agar ia bisa menjadi perantara hidayah Allah pada ummat.

Adab pertama adalah al-ikhlashu fiddakwah. Bahwa seorang da’i itu dituntut ikhlas, jelas. Tapi tidak sedikit yang, sedihnya, berakhir riya’. Tragis? Pasti. Dalam salah satu hadits Shahih Ibnu Hibban dan Thabrani, bahkan diungkapkan: bahwa Allah menguatkan agama ini dengan da’i yang kiprah dakwahnya luar biasa, tapi sesungguhnya ia tak dapat apa-apa karena niatnya melenceng. Itulah sebabnya, da’i sangat perlu memantau amalnya, menurut konsep Ibnul Qayyim, pada tiga fase: qablal ‘amal (sebelum amal), atsnaa al-‘amal (saat beramal), dan ba’dal ‘amal (setelah amal).

Entah kenapa, ingatan saya kembali melayang soal fenomena “gerakan” bersedekah dan shalat dhuha agar rezeki berlimpah. Berhubung ada ustadz yang telah belajar syariah, saya utarakan kegelisahan hati. Kenapa ummat begitu ramai menerima konsep ini, tanpa mengkhawatirkan soal keikhlasan sama sekali?

“Tidak sedikit, Ustadz, yang bersedekah dan shalat dhuha itu berharap rezekinya jadi berlipat ganda. Mereka berargumen, Rasulullah saja mengiming-imingi para shahabat dengan peningkatan rezeki saat bicara sedekah dan shalat dhuha. Menurut pendapat Ustadz gimana?”

Jawabannya sederhana sih. Tapi menurut saya tepat pada sasaran.

Beliau memberikan qiyas atau perumpamaan menanam pohon. Saat kita menanam benih pohon jeruk, tanpa diharapkan pun hasilnya ya pohon jeruk kok. Benih itu tak akan tumbuh jadi pohon duren, misalnya. Atau pohon apel. Atau pohon-pohon yang lain. Buat apa berharap benih itu akan jadi pohon jeruk dan menghasilkan jeruk, kalau memang itu benih pohon jeruk?

Sedekah dan shalat dhuha, tanpa diharapkan atau diniatkan melipatgandakan rezeki pun, memiliki efek yang sama. Karena begitulah yang dikabarkan Rasulullah lewat hadits-haditsnya. Lalu, buat apa meniatkan ibadah-ibadah tersebut untuk melimpahkan rezeki? Sungguh, ini adalah niat yang sia-sia.



Lebih sia-sia lagi karena ibadah tersebut tidak diniatkan karena Allah. Selalu, ibadah itu landasannya Allah. Untuk ridha dan surganya Allah. Sedangkan rezeki itu adalah kebaikan dunianya saja–yang tanpa diniatkan pun akan didapatkan. Ini seperti menanam padi, pasti dapat rumput. Tapi menanam rumput, pasti tak dapat padi. Bahwa niat akhirat akan merangkul kebaikan dunia. Barangsiapa yang niatnya karena Allah, pasti Allah berikan rezeki yang baik. Tapi kalau niatnya karena rezeki, belum tentu dapat ridhanya Allah.

Ingatlah kembali hadits yang menggambarkan salah satu adegan di Yaumul Hisab nanti. Tepatnya saat seorang hamba, yang sering bersedekah di dunia tengah diadili. Dia bilang ia melakukan itu semua karena Allah. Tapi Allah bilang: kadzabta. “Engkau bohong!” Bahwa amal itu dilakukan agar disebut dermawan di dunia. Dan itu sudah didapatkan ketika ia hidup. Tak ada lagi balasan pahala yang tersisa di akhirat. Maka, dilemparlah orang itu ke neraka.

Bagaimana jika itu terjadi hari ini, terpeleset niat dalam shalat dhuha dan sedekah-sedekah kita. Bahwa faktor utama kita bersedekah dan shalat dhuha adalah semata melipatgandakan rezeki. Lalu kita mati dan berpikir: amalan tersebut siap mengantar kita ke surga. Aduhai, bagaimana rasanya bila Allah justru bilang: kadzabta. Amal-amal itu hanya dalam rangka meminta dunia. Karenanya, tak ada ganjaran akhirat sama sekali yang tersisa. Habislah kita.

Semoga ini bisa meluruskan kembali niat ibadah kita. Sungguh, tak pernah rugi orang-orang yang menjadikan Allah sebagai niatnya. Sebab itu sudah mencukupi, lebih dari permintaan kita, yang seringkali terbatas pada harta dan dunia.

Allahu a’lam.[ ]

 

Sumber : Asa Mulchias & Friends

Share this post

scroll to top