Akhwat Muslimah

Air Mata Seorang Suami

Ilustrasi. (Foto: sodahead.com)

Ilustrasi. (Foto: sodahead.com)

Akhwatmuslimah.com – Air mata seorang suami begitu indahnya mengalir deras membasahi baju dengan penuh kesabaran duduk dipembaringan menemani istrinya yang sedang sakit keras. sampai kemudian sang istri menghembuskan napas terakhirnya. Mencintai dengan setulus hati pada istri telah menjadi komitmen, ketika dirinya didera ketakutan hidup sendiri telah menghantui dirinya sejak lama. Ia berusaha mempersiapkan diri dan selalu berusaha melayani istri dengan baik karena menderita sakit. Kesabaran karena kasih sayang tak terukur yang diberikan pada istrinya sebab ia dan anak-anaknya benar-benar merasakan kasih sayang dari istri dan ibu yang tidak pernah sedikitpun menyakiti hati mereka. Meski menderita sakit namun kata-kata dan sikap yang begitu lembut dan tidak pernah menjadi marah.

Sampai kemudian terjadilah apa yang ditakutkan, serangan penyakit yang tak tertolong oleh dokter dan rumah sakit dengan peralatan modern sekalipun telah merenggut jiwa istrinya. Ia merasa shock dan terpukul atas kepergian sang istri. Berkali-kali jatuh pingsan, menjadi lemah dan tak berdaya setelah kepergiannya. Sebagai suami merasakan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ia menatap anak-anaknya yang tumbuh besar begitu sedih dan menangisi kepergian ibu yang begitu menyayangi mereka namun mereka lebih terpukul melihat keadaan dirinya yang tidak lagi memperdulikan mereka, tidak lagi mengurus apapun termasuk mengurus dirinya sendiri. Tiap hari ia lebih banyak duduk dan setiap kali memandangi foto-foto yang menempel di dinding, air matanya mengalir deras. Buku-buku, benda kesayangan, tanaman di halaman tetap disiraminya. Juga binatang peliharaan kesayangannya seolah mengingatkan lagi usapan tangan yang lembut. Ia tidak mau memindahkan semua benda atau apapun yang berkaitan dengan istrinya.

Perasaan kehilangan telah membuatnya tidak lapar dan haus membuat tubuhnya menjadi lemah dan tak bergairah untuk bekerja. Dalam kesendirian dirinya bertanya-tanya, ‘Bila Allah Maha Baik mengapa membiarkan kami kehilangan orang yang kami cintai? Mengapa kebahagiaan keluarga kami begitu singkat?’

Ketika keadaan sudah sedemikian parah dan ia ditengah keterpurukannya, sampai kesempatan mengenal orang yang mengalami hal yang sama di Rumah Amalia, kehilangan orang yang dicintainya, menanggung beban yang berat. Akhirnya ia menemukan dirinya sendiri dan bisa mengatasi rasa perih akibat kehilangan orang yang dicintainya. Ia menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan cinta dan kasih sayang pada dirinya, rasa cinta itulah yang menguatkan dirinya agar tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya dan bagi sesama dengan aktifitas sosialnya.

Kenangan indah akan orang yang dicintainya tetap disimpannya dan sebagai penyembuh bagi dirinya. Rasa perih, kesepian dan kesendirian perlahan-lahan telah mencair, ia memperoleh makna hidup yang membuatnya semakin mengerti makna kesetiaan dan setiap selesai sholat senantiasa memanjatkan doa untuk istrinya yang telah tiada agar Allah menempatkan di surga yang terindah di sisi-Nya. [ ]

Sumber: agussyafii



Exit mobile version