Yang Khianat dan Yang Setia

Akhwatmuslimah.com – Seorang pemuda Mesir yang telah mengembara sejak tahun 1948, telah berhasil mempersunting seorang gadis di negeri Swedia. Ini terjadi pada tahun 1974 sesudah sekian lama dia bekerja kesana kemari. Berbagai negeri telah dikunjunginya dan beragam kerja kasar telah dikerjakannya karena hanya bermodal tenaga. Dengan mempersunting gadis Swedia itu dia berhasil mendapatkan status kewarganegaraan Swedia. Dia bekerja di sebuah perusahaan listrik sebagai tukang las.  Nama pemuda itu ialah Ibrahim Sourio. Dua tahun bersuami isteri keduanya mendapatkan seorang puteri, diberi nama Ana Cameliya.

Pada suatu hari Ibrahim Sourio pergi ke pekerjannya seperti biasa. Tapi pada hari itu, dia terpaksa pulang ke rumahnya dua jam lebih cepat dari biasanya karena badannya kurang sehat. Setibanya di rumah, begitu membuka kamar, alangkah terperanjatnya ! Isterinya sedang dalam pelukan seorang lelaki tetangganya dan bergumul di atas tempat tidur tanpa pakaian sehelaipun. Diambilnya pisau, keduanya mau ditikam. Tapi tak sampai hati karena teringat anak puterinya yang masih kecil. Diapun segera mengangkat telepon untuk memanggil polisi. Isterinya dan laki-laki itu diancam agar tidak bergerak dari tempat tidur. Ketika polisi datang, dipaparkanlah duduk perkaranya. Saksi nyata peristiwa itu masih dalam adegannya… Tapi apa jawab polisi?  “Kalau anda tidak senang dengan keadaan dan perilaku isteri anda lebih baik anda ceraikan saja agar tidak menganggu kesenangannya”, kata sang polisi.

Begitulah kiranya adat istiadat di belahan bumi sana. Antara suami isteri tidak boleh ganggu-menganggu. Masing-masing bebas mencari pasangan untuk kencan, meskipun masih terikat dalam perkawinan.

Suami pergi bekerja membanting tulang mencari nafkah, sedang isteri berbuat semaunya dan kesenangannya tidak boleh diganggu. Tak terbicara masalah kesetiaan, amanah pemeliharaan harta dan rumah tangga, malah sesuatu yang paling mullia pada diri dia cemarkan, yaitu kehormatan.

***

Sudah tiga tahun “S” hidup berumah tangga dengan pemuda M, sudah mendapat putera dua orang. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di suatu desa di pedalaman Kalimantan. Ekonomi rakyat di daerah itu agak sulit dan mata pencaharian serba tidak cocok sehingga banyak yang merantau ke daerah lain.

Pada suatu hari suami (M) berkata kepada isterinya : “Dinda, izinkanlah kakak merantau ke Jambi mencari pekerjaan yang dapat memperbaiki nasib kita dan anak-anak kita ini. Bila keadaan mengizinkan kakak akan menjemputmu nanti… “

Dengan pasrah dan penuh doa, S melepas suaminya berangkat ke Jambi. Meskipun berat rasanya, namun demi perbaikan nasib hidup, dengan rela S melepaskan suaminya.

Seminggu, sebulan dan setahun, masih ada surat-surat yang memberitakan bahwa pekerjaan yang tetap belum ada, masih menanyakan bagaimana keadaan dua orang anak yang ditinggalkan. Tapi setelah terbilang hampir sembilan tahun surat-surat tak pernah datang. Berita terakhir yang diterima dari sumber yang bisa dipercaya, dari orang-orang yang pulang merantau dari daerah otu, suami (M) telah beristeri muda, sudah kaya berkecukupan dan malah sudah punya anak pula!

Yang menjadi perhatian kita ialah kesabaran si isteri (S) menunggu suaminya itu. Untuk kehidupan sehari-hari S menjual pisang goreng. Kedua anaknya sudah masuk ke sekolah dasar. Sekali-sekali S pergi ke surau. Di sana dia mendengarkan pengajian agama. Setelah terdengar kepastian bahwa suaminya telah kawin, keluarga dekatnya penasaran dan menyuruh S mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama minta cerai. S tidak menjawab dan berdiam diri.

Ada juga orang yang meminang dan membujuknya, maklum masih muda dan masih nampak kecantikannya. Lamaran dan bujukan itu dijawabnya dengan manis. Orang-orang sekampungnya mengatakan bahwa S adalah perempuan bodoh karena tidak mengadukan halnya ke Pengadilan Agama untuk minta cerai. Suami tidak memberi nafkah dan malah kawin lagi, bukankah hal ini sudah keterlaluan. Semua tuduhan itu dijawabnya dengan manis, “Mudah-mudahan Allah masih membekaliku kesabaran. Aku masih yakin bahwa suamiku akan kembali kepadaku, kalaupun bukan karena aku tapi karena anak-anaknya. Sekarang amanah yang paling berharga yaitu dua orang anaknya yang terus kupelihara dan aku didik sebaik-baiknya semampuku. Biarlah aku tidak bersuami dengan yang lain demi amanah ini, amanah yang ditinggalkan melebihi dari amanah harta benda atau materi. Adapun dia beristeri lagi, itu adalah haknya dan aku yakin dia beristeri bukanlah terburu nafsu, tapi untuk menjaga diri jangan sampai terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Bila dia telah kaya dan lupa kepada anak-anaknya sehingga anak-anaknya terlantar, maka dia sendiri nantinya yang akan menanggung dosanya di hari kiamat. Aku yakin hidup sekarang hanyalah hidup sementara dan hidup di akhirat adalah hidup yang kekal dan abadi.”

Demikianlah kisah singkat S. Yang menarik perhatian kita, bukan saja kesabarnnya menunggu, tapi keikhlasannya dalam memelihara amanah suaminya sehingga dia tidak menuntut cerai untuk bersuami dengan pria lain. Semua ini demi kedua anaknya. Bukankah kalau bersuami dengan pria lain, entah bagaimana nasib si anak dengan ayah tirinya dan kasih sayang ibupun tentunya akan terbagi pula. Alangkah dalam pandangan hidupnya bahwa suaminya beristeri bukanlah lantaran terburu nafsu tapi demi menjaga diri dari godaan setan yang setiap saat menganggu manusia untuk menjerumuskannya ke jurang kemaksiatan.

Demikian dua peristiwa dalam kehidupan berumah tangga. Kedua peristiwa ini berbeda sejauh langit dan bumi. Peristiwa pertama tentang khianatnya seorang isteri yang menghancurkan rumah tangga. Sedang peristiwa kedua tentang kesetiaan isteri dengan amanah yang ditinggalkan suami.

Yang pertama, isteri yang khianat terjadi karena isteri tidak mendapatkan bimbingan agama. Sedang yang kedua, isteri yang setia karena telah mendapatkan bimbingan wahyu yang benar.

Rasulullah SAW memberikan pernghargaan yang tinggi sekali kepada wanita yang setia kepada suaminya. Beliau pernah ditanya tentang perempuan manakah yang paling baik. Beliau menjawab : “Ialah yang menyenangkan bila dilihat suaminya, diikutinya suruhan suaminya dan tidak diselewengkan diri dan harta suaminya ke jalan yang tidak disukainya.” [ANW]

Sumber : “Buku Bunga Rampai dari Timur Tengah”

Share this post

scroll to top